Soal
MiG family yang dioperasikan AURI, tak usah diragukan lagi bahwa
kedatangan MiG-21 menjadi momentum penting bagi AURI. Pasalnya ketika
itu, MiG-21 tergolong pesawat pencegat tercanggih di eranya. Namun
dibanding MiG-15 dan MiG-17, jet ini tergolong telat datangya hingga
tidak banyak kiprahnya dalam Trikora.
Sebagai persiapan, AURI mengirimkan penerbangnya ke Rusia untuk belajar menerbangkan pesawat MiG-21 pada tahun 1961. Para penerbang yang terpliih adalah Kapten Sukardi, Letnan Udara I Jahman, Letnan Udara I Sobirin Misbach, dan Letnan Udara I Saputro. Sebenarnya Sobirin Misbach dan Saputro tidak diberangkatkan ke Rusia. Namun mereka hams menggantikan dua penerbang lainnya yang terpaksa grounded setibanya di Uni Soviet. Letnan Udara II Mundung hams pulang karena sakit, sedang Letnan Udara II Suganda terpaksa pulang karena memiliki ukuran tubuh terlalu kecil. Suganda telah mencoba berbagai macam pressure suit, bahkan sampai ukuran terkecil, tetap saja tidak muat. Selama em-pat bulan, para penerbang belajar menerbangkan pesawat di Lanud Lugowaya yang berada di sebuah kota kecil di perbatasan dengan India.
Selain mengirim ke luar, AURI juga mendatangkan instruktur dari Soviet. Penerbang yang dididik di dalam negeri adalah Mayor Roesman sebagai calon komandan skadron MiG-21. Program latihan dilaksanakan hampir bersamaan dengan kadet yang di Lugowaya. Setelah menyelesaikan latihan terbang, mereka mengajarkan ilmu yang sama kepada penerbang di skadron. Penerbang MiG-21 diambil dari penerbang MiG-17 Skadron 11 dan MiG-19 Skadron 12.
Ada cerita unik soal MiG-17. Semula skadron berkekuatan 49 MiG-17 dan 30 MiG-15UTI ini berpangkalan di Kemayoran sebelum dipindah ke Madiun. Secara resmi kepindahan ini dikarenakan padatnya traffic di Kemayoran. Karena selain penerbangan sipil, di Kemayoran juga ditempatkan 10 MiG-19 asal Skadron 12 dan Skadron 21 dengan 22 11-28 Beagle. Namun sejumlah orang percaya bahwa kepindahan ini gara-gara penembakan Istana Merdeka oleh Letnan Daniel Maukar menggunakan MiG-17 F-1112 pada 9 Maret 1960. Setelah kejadian itu Skadron 11 tiba-tiba mendapat perintah untuk keluar dari Ibukota.
Proses pindahnya pun rada unik. Perintah keluar Ibukota itu didahului dengan rencana terbang navigasi keliling Indonesia. Pada saat mereka tiba di Bali dan bersiap kembali ke Kemayoran, Mabes AURI tiba-tiba mengeluarkan instruksi tentang home base baru mereka di Iswahjudi. Sehingga dari Bali MiG-17 langsung diterbangkan ke Iswahjudi, sedangkan personel dan peralatan menyusul kemudian. Sebuah kepindahan yang mendadak.
MiG-17PF
yang dilengkapi radar Izumrud, tengah mendapat kunjungan dari petinggi
militer asing. Pesawat ini ditempatkan di Skadron 11, dan kemudian
dipindahkan ke Madiun setelah insiden penembakan Istana Merdeka oleh
Lettu Maukar. Fresco berperan besar dalam Operasi Trikora.
MiG-21 sejatinya memang dirancang untuk menyergap bomber dan pesawat tempur supersonik lainnya. Sehingga setelah tiba di Indonesia pada 1962, pesawat-pesawat ini menjadi pesawat interceptor AURI. Tak pelak kedatangan jet yang mampu mencapai kecepatan Mach 2 membuat pihak Barat gusar. Dengan mesin Tumanski berkekuatan 11.240 lbs dan berat total 16.500 lbs, MiG-21 merupakan pesawat dengan thrust to weight ratio paling baik saat itu yaitu 5:1. Kehebatan mesin ini dibanding pesawat AS saat itu adalah tidak adanya jejak asal yang keluar dari mesin.
Awalnya MiG-21 ditempatkan di Skadron 14. Menyusul sejumlah kejadian teknis yang menimpa MiG-19 dari Skadron 12, maka sebagian MiG-21 ditempatkan di Skadron 12, Kemayoran. MiG-18 grounded dan akhirnya dijual ke Pakistan pada tahun 1965. Pengiriman dari Lanud Kemayoran dilaksanakan melewati pelabuhan Tanjung Priok pada bulan Oktober, sesaat setelah pemberontakan PKI meletus.
Bisa
jadi Mig-17D adalah jet tempur paling banyak berperan dalam konflik di
Irian Barat dengan Belanda. Kondisi ini tak terlepas dari belum
datangnya MiG-21 ketika konflik sedang memanas.
Kekurangan MiG-21 adalah pada daya jelajah dan system avionic. Day jelajahnya tidak terlalu iauh disebabkan kapasitas tangki bahan bakar internal hanya 1.470 liter dan tangki eksternal 490 liter, hanya bisa digunakan untuk ter-bang selama 1 jani 45 menit. Sistern avionik juga lemah. Di kokpit hanya terdapat peralatan semacam automatic direction finder (ADF). Sebagai pesawat interceptor, kecepatan yang dimiliki memang “Joleh diandalkan, namun tanpa radar yang memadai maka penerNing harus menemukan sasaran di udara dengan mata telanjang ietelah dipandu radar darat. Radar yang di pesawat hanya terbatas .mtuk melepas roket K-13 A.
Penerbang yang sempat men-Omni Skadron 14 pada saat itu antara lain Roesman, Saputro, Tri Suharto, Subardi, Yos Bakarbesi, Jahman, Martin, Tetelepta, Sukardi, Firman, Siahaan, Beni Joseph, Eli Sumarmo, M Syafii, Wofkar Usmani, dan Sobirin Misbach.
MiG-15UTI
adalah jet versi latih yang mulai diterima AURI sejak akhir 1950-an. Di
lingkungan AU Soviet kala itu, jet ini baru diproduksi setelah
pengembangan MiG-15bis disetujui pada 1949. Pesawat ini dilengkapi kursi
lontar dan sangat bersahabat untuk fungsi latih karena kanopinya yang
luas.
Seperti Tu-16, nasib MiG family juga mengenaskan. Kepedihan itu paling dirasakan oleh penerbang angkatan Ciptoning III yang baru kembali dari Ceko. Setelah tiga tahun tiga bulan mengikuti sekolah terbang di Ceko dan pulang ke tanah air, ternyata mereka mendapati kondiri AURI sudah berubah drastis. Saat mereka kembali Agustus 1968, MiG-21 sudah dalam kondisi kritis. Bahkan setahun sebelumnya telah diadakanfarewellflight untuk menandai beralchirnya masa pakai pesawat ini. Terbang perpisahan itu berlangsung malam hari selama satu bulan penuh di Halim Perdanakusuma. Setrlah itu hanya beberapa pesawat saja yang diizinkaan terbang. MiG-21 melakukan penerbangan terakhir pada tahun 1970, saat diadakanfly past di Jakarta. Pada tahun itu seluruh pesawat jenis MiG dinyatakan grounded oleh Mabes AURI.
Padahal MiG-21 dan MiG19 relatif masih baru, namun mempunyai akhir pengabdian yang memilukan. MiG-19 dijual ke Pakistan, bahkan beberapa penerbang dan teknisi juga dikirim ke Pakistan dala Operasi Pakis untuk membantu Pakistan yang terlibat konflik dengan India. Bantuan MiG-19 ini ditukar dengan empat unit pesawat Lock- heed Constelation yang ternyata performanya buruk. Pesawat ini hanya dipakai beberapa tahun saja sebelum akhirnya di-grounded. Dalam kerjasama itu, Pakistan sempat mengajukan permintaan untuk memperoleh rudal Kennel AS-1 bawaan Tu-16. Namun permintaan ini ditolak oleh KSAU Omar Dhani.
Sementara MiG-21 yang terpaksa harus diangkut ke Amerika sebagai bagian dari barter dengan T-33, sempat terlihat diangkut pesawat C-141 Starlifter pada awal 1970
Tidak ada komentar:
Posting Komentar