Masih
diingat dengan baik sampai saat ini, bahwa era 1960-an adalah masa-masa
keemasan bagi TNI AU. Lusinan pesawat jet dari jenis baik itu fighter
maupun bomber, menghuni skadron-skadron AURI saat itu. Karena kehadiran
Tu-16 juga lantas membuat Belanda berpikir ulang untuk membuka front
dengan Indonesia di Irian Barat.
Ketika ide pembelian Tu-16 dikemukakan Salatun yang saat itu Sekretaris Dewan Penerbangan/ Sekretaris Gabungan Kepalakepala Staf kepada Suryadarma pada tahun 1957, tidak seorangpun tahu. Maklum, TNI tengah sibuk menghadapi PRRI/Permesta. Namun dari pemberontakan itu pula, semua tersentak. AURI tidak punya pembom strategis. B-25 yang dikerahkan menghadapi AUREV (AU Permesta) malah merepotkan. Karena daya jelajahnya terbatas, pangkalannya harus digeser, peralatan pendukungnya harus diboyong. Waktu dan tenaga tersita. Sungguh tidak efektif. Celaka lagi, AS meng-embargo suku cadangnya Alhasil, gagasan memilild Tu-16 semakin terbuka.
Salatun yang menemukan proyek Tu-16 dari majalah penerbangan asing tahun 1957, menyampaikannya kepada Suryadarma. “Dengan Tu-16, awak kita bisa terbang setelah sarapan pagi menuju sasaran terjauh sekalipun dan kembali sebelum makan siang,” jelasnya kepada KSAU. “Bagaimana pangkalannya,” tanya Pak Surya. “Kita akan pakai Kemayoran yang mampu menampung pesawat jet,” jawab Salatun. Seiring disetujuinya rencana pembelian Tu-16, landas pacu Lanud Iswahyudi, Madiun, turut diperpanjang.
Tahun 1960, Salatun berangkat ke Moskwa bersama delegasi pembelian senjata dipimpin Jenderal AH Nasution. Sampai tiba di Moskwa, delegasi belum tahu, apakah Tu-16 sudah termasuk dalam daftar persenjataan yang disetujui Soviet. Perintah BK hanya cari senjata. Apa yang terjadi. Tu-16 termasuk dalam daftar persenjataan yang ditawarkan Uni Soviet. Betapa kagetnya delegasi.
“Karena Tu-16 kami berikan kepada Indonesia, maka pesawat ini akan kami berikan juga kepada negara sahabat lain,” ujar Menlu Mikoyan. Mulai detik itu, Indonesia menjadi negara ke empat di dunia yang mengoperasikan pembom strategic selain Amerika, Inggris, dan Rusia sendiri. Hebatnya lagi, AURI pernah mengusulkan untuk mengecat bagian bawah Tu16 dengan Anti Radiation Paint yaitu cat khusus antiradiasi bagi pesawat pembom berkemampuan nuklir. “Gertak musuh saja, AURI kan tak punya born nuklir,” tutur Salatun. Usul ditolak.
Segera AURI mempersiapkan awaknya. Puluhan kadet dikirim ke Chekoslovakia dan Rusia. Mereka dikenal dengan angkatan Cakra I, II, III, Ciptoning I dan Ciptoning II. Mulai 1 Juli 1961, ke24 Tu-16 mulai datang bergiliran diterbangkan awak Indonesia maupun Rusia. Pesawat pertama M-1601 yang mendarat di Kemayoran diterbangkan oleh Komodor Udara Cok Suroso Hurip. Peristiwa ini mendapat perhatian luas terutama dan kalangan intel AS.
Kesempatan pertama intel-intel AS melihat Tu-16 dan dekat ini, memberikan kesempatan kepada mereka memperkirakan kapasitas tangki dan daya jelajahnya. Pengintaian terus dilakukan AS sampai saat Tu-16 dipindahkan ke Madiun. Pesawat intai canggih saat itu U-2 Dragon Lady pun dilibatkan. Wajar, di samping sebagai negara pertama yang mengoperasikan Tu16 di luar Rusia, kala itu beraneka ragam pesawat Blok Timur lainnya berjejer di Madiun.
Persiapan Trikora
Saat Trikora dikumandangkan, angkatan perang Indonesia sedang berada pada “puncaknya”. Lusinan persenjataan Blok Timur dimiliki. Mendadak AURI berkembang jadi kekuatan terbesar di belahan Selatan. Dalam mendukung Trikora, AURI menyiapkan satu flight Tu-16 di Morotai yang hanya memerlukan 1,5 jam penerbangan dari Madiun. “Kita siaga 24 jam di sana,” ujar Kolonel (Pur) Sudjijantono, salah satu penerbang Tu-16. “Sesekali terbang untuk memanaskan mesin. Tapi belum pernah membom atau kontak senjata dengan pesawat Belanda,” ceritanya. Saat itu, dikalangan pilot Tu-16 punya semacam target favorit, yaitu kapal induk Belanda Karel Doorman.
Tu-16
dengan nomar registrasi 16001, yang berarti pesawat pertama yang tiba
di Tanah Air. Karena kemampuan tebangnya yang jauh, tak jarang ketika
itu Tu-16 terbang hingga memasuki wilayah udara Australia atau Malaysia.
Sayang karena urusan politik, nasib Tu-16 berakhir muram. Kekurangan
suku cadang jadi penyebab utama untuk kemudian pesawat ini harus
gounded.
Lain lagi kisah Idrus Abas (saat itu Sersan Udara I), operator radio sekaligus penembak ekor (tail gunner) Tu-16. Mei 1962, saat perundingan RI-Belanda berlangsung di PBB, merupakan saat paling mendebarkan. Awak Tu-16 disiagakan di Morotai. Dengan bekal radio transistor, mereka memonitor hasil perundingan. Mereka diperintahkan, “Kalau perundingan gagal, langsung born Biak,” ceritanya mengenang. “Kita tidak tahu, apakah bisa kembali atau tidak setelah mengebom,” tambah Sjahroemsjah yang waktu itu berpangkat Sersan Udara I, rekan Idrus yang bertugas sebagai operator radio/tail gunner. Istilahnya, one way ticket operation.
Awak Tu-16 di Morotai ini tidak akan pernah melupakan jerih payah ground crew. “Paling susah kalau isi bahan bakar. Bayangkan untuk sebuah Tu-16 dibutuhkan sampai 70 drum bahan bakar. Kadang ngangkutnya tidak pakai pesawat, jadi langsung diturunkan dari kapal laut. Itupun dari tengah laut. Makanya, sering mereka mendorong dari tengah laut,” ujar Idrus. Derita awak darat itu belum berakhir, lantaran untuk memasukkan ke tangki pesawat yang berkapasitas kurang lebih 45.000 liter itu, masih menggunakan cara manual. Di suling satu per satu dari drum hingga empat hari empat malam. Hanya sebulan Tu-16 di Morotai, sebelum akhirnya ditarik kembali ke Madiun usai Trikora.
Kennel memang tidak pernah ditembakkan. Tapi ujicoba pernah dilakukan sekitar tahun 1964-1965. Kennel ditembakkan ke sebuah pulau karang di tengah laut, persisnya antara Bali dan Ujung Pandang. “Nama pulaunya Arakan,” aku Hendro Subroto, mantan wartawan TVRI. Dalam ujicoba, Hendro mengikuti dari sebuah C-130 Hercules bersama KSAU Omar Dhani. Usai peluncuran, Hercules mendarat di Denpasar. Dari Denpasar, dengan menumpang helikopter Mi-6, KSAU dan rombongan terbang ke Arakan melihat perkenaan. “Tepat di tengah, plat bajanya bolong,” jelas Hendro.
Nasib sang bomber
Sungguh ironis nasib akhir Tu-16 AURI. Pengadaan dan penghapusannya lebih banyak ditentukan oleh satu perkara: politik! “AURI harus menghapus seluruh armada Tu-16 sebagai syarat mendapatkan F-86 Sabre dan T-33 T -Bird dari Amerika,” ujar Bagio Utomo, mantan anggota Skatek 042 yang mengurusi perbaikan Tu-16. Bagio menuturkan kesedihannya ketika terlibat dalam tim “penjagalan” Tu-16 pada tahun 1970.
Namun Tu-16 bukan tanpa cacat. Konyol sekali, beberapa bagian pesawat bisa tidak cocok dengan spare pengganti. Bahkan dengan spare yang diambil secara kanibal sekalipun. “Kami terpaksa memakai sistem kerajinan tangan, agar sama dan pas dengan kedudukannya. Seperti blister (kubah kaca), mesti diamplas dulu,” kenang Bagio lagi. Pengadaan suku cadang juga sedikit rumit, karena penempatannya yang tersebar di Ujung Pandang dan Kemayoran. Sebenarnya, persediaan suku cadang Tu-16 yang dipasok dari Rusia cukup memadai. Tapi urusan politik membelitnya sangat kuat. Tak heran kemudian, usai pengabdiannya selama Trikora-Dwikora dan di sela-sela nasibnya yang tak menentu pasca G30S/PKI, AURI pernah bermaksud menjual armada Tu-16 ke Mesir.
Namun pasca G30S, kondisi pesawat-pesawat Rusia memang tragis. Seingat Suwandi Sudjono, pilot Tu-16, dalam setahun paling hanya 12 kali mereka menerbangkan Tu-16. Karena itu kanibalisasi tak terelakkan agar sejumlah pesawat tetap bisa terbang. Akhirnya pada Oktober 1970 dilakukan test flight Tu-16 nomor M-1625 setelah dikanibal habisaabisan. Tidak mudah karena adanya ketidakOckan suku cadang. Namun mereka masih berbesar hati karena menurut Subagyo yang mantan Komandan Wing Logistik 040, mesinnya masih banyak. Setidaknya ada 20 mesin baru, tapi hanya mesin, tanpa suku cadang yang lainnya.
Maka hari itu, Komandan Wing 003 merangkap Komandan Skadron 41 Letkol Pnb Suwandi membawa krunya yaitu Kapten Pnb Rahmat Somadinata (kopilot), dan Kapten Nav Beny Subyanto menerbangkan M-1625. Pada hari itu, M-1625 adalah satu-satunya Tu-16 yang tersisa dan dalam kondisi siap terbang. Sungguh tragis!
Begitulah nasib Tu-16. Tragis. Farewell flight, penerbangan perpisahannya, dirayakan oleh para awak Tu-16 pada Oktober 1970 menjelang HUT ABRI. Dijejali 10 orang, Tu-16 bernomor M-1625 diterbangkan dari Madiun ke Jakarta. “Sempat kesasar waktu kita cari Monas,” ujar Zainal Sudarmadji. Saat mendarat lagi di Madiun, bannya meletus karena awaknya sengaja mengerem secara mendadak.
Patut diakui, keberadaan pemborn strategic mampu memberikan efek psikologis bagi lawanlawan Indonesia saat itu. Bahkan, sampai pertengahan 1980-an, Tu-16 AURI masih dianggap ancaman oleh AS. “Wong nama saya masih tercatat sebagai pilot Tu-16 di ruang operasi Subic Bay,” ujar Sudjijantono, angkatan Cakra 1.
Sekian tahun hidup dalam kedigdayaan, sampailah AURI (juga ALRI) pada masa yang teramat pahit. Pasokan suku cadang terhenti, nasib pesawat tak jelas. Ditulis oleh Harold Crouch (Politik dan Militer di Indonesia, 1978), AL dan AU yang bergantung pada teknologi yang lebih maju dari AD tidak dapat memelihara lagi dengan baik peralatannya.
Pada awal 1970, KSAU Marsdya Suwoto Sukendar mengatakan, hanya 15-20% pesawat AURI yang dapat diterbangkan, kapal ALRI hanya 40% karena ketiadaan suku cadang dari Uni Soviet. Tahun 1970, kemudian dikenang sebagai tahun pemusnahan persenjataan Blok Timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar